Jasa rental mobil menjelang Lebaran kebanjiran order. Pemilik jasa rental mobil, Gunawan (40) juga mengaku semua mobil yang ada telah dipesan.

"Semua mobil sudah dipesan tinggal diambil para penyewanya saja. Biasanya seminggu sebelum Lebaran sudah dibawa," ujarnya.  

Menurut Gunawan, kendati tarif sewa mobil naik hingga 300% dibanding hari biasanya, namun permintaan tetap tinggi.  

Dikatakan, larisnya usaha jasa rental karena masyarakat kini lebih mengutamakan kenyamanan. Mudik menggunakan motor sangat tidak aman apalagi dengan keluarga yang membawa anak kecil.  

Selain itu, masyarakat enggan menggunakan angkutan umum yang berdesak-desakan. Maka dari itulah pilihan favorit adalah mudik dengan menggunakan mobil.  

Lebaran tahun ini, dia juga menyiapkan sebanyak 30 unit mobil yang siap disewakan. Sedangkan harga yang diberikan, menurutnya memiliki kriteria tertentu dan sistem paket.  

Pihaknya menerapkan sistem paket. Kalau biasanya Kijang Innova sewanya Rp 350 ribu sehari. Untuk Lebaran dinaikkan menjadi Rp 6,5 juta rupiah untuk paket satu minggu.  

Sementara untuk Daihatsu Xenia dari Rp 200 ribu menjadi Rp 300 ribu per hari, Avanza dari Rp 250 ribu menjadi Rp 750 ribu per hari, Mitsubishi L300 dari Rp 500 ribu menjadi Rp 1,5 juta per hari, Pregio dari Rp 600 ribu menjadi Rp 1,2 juta per hari.  

Gunawan juga menyediakan hampir semua jenis mobil seperti Innova, Xenia, Avanza, Panther, Kijang LGX, Suzuki APV, Pregio hingga Mitsubishi L300.  

Pengelola rental mobil lainnya, Lukman Hadi (30) di kawasan Tlogosari mengatakan, harga sewa yang biasanya harian berubah menjadi paket. "Jadi sudah tidak ada lagi sewa harian tapi paket dalam seminggu," ujarnya.  

Menjelang Lebaran tahun ini, kendaraan yang tersedia sudah habis dipesan hingga H+7 Lebaran. Pemesanan sudah dilakukan sejak awal bulan puasa.  

Bahkan, ada konsumen yang melakukan order sebulan sebelum puasa. Dibanding hari biasa lonjakan pengguna mobil sewaan sangat tinggi, "Kalau bulan biasa paling sehari cuma tiga unit mobil terpakai, sekarang semua unit habis dirental orang," ujarnya.

 

JELANG LEBARAN, JASA RENTAL MOBIL LARIS MANIS

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »