saco-indonesia.com, Seorang balita tewas tertembak senapan angin di bagian belakang kepalanya. Korban meninggal dunia saat menjalani perwatan di rumah sakit Dr. Haryoto.

Pelaku yang tak lain adalah paman korban, Nawawi, telah diamankan ke mapolsek Sukodono beserta barang bukti senapan angin. Korban yang diduga telah terkena tembakan pamannya yang sedang latihan di belakang rumahnya.

Informasi yang telah berhasil dihimpun, Korban Daniah yang berusia 5 tahun putri pasangan Wawan dan Fitriah, warga desa karangsari Kecamatan Sukodono telah dilarikan kerumah sakit akibat tertembak senapan angin/ di bagian belakang kepalanya.

Kejadian ini, bermula saat pamannya, Nawawi, sedang berlatih menembak  di belakang halaman rumahnya. Tak disangka korban yang melintas dan tertembak di bagian kepala belakangnya.

Korban akhinya tewas setelah menjalani perwatan intesif dirumah sakit pemerintah. Diduga korban meninggal ada pendaharan dibagian otaknya. “Latihan tidak melihat sekelilingnya,” terang Faisol, kerabat korban.

Setelah melakukan pemeriksaan intensif, polisi akhirnya telah menetapkan Nawawi sebagai tersangka dan langsung dijebloskan ke tahanan Mapolsek Sukodono.
“Setelah cukup bukti,petugas langsung menetapkan (Nawawi-red)sebagai tersangka dan langsung ditahan,” Ujar

Kapolsek Sukodono, AKP Sudartono seraya juga mengatakan lokasi terjadi penembakan, dibelakang rumah yang telah dijadikan tempat latihan menembak.
Ditambahkanya, dari pemeriksaan penembakan dikarenakan ketidak sengajaan.

Namun pelaku juga tidak memperhatikan keamanan latihan menembak. “Kami telah mengancam tersangka dengan Undang-undang perlindungan anak, karena lalai bermain senapan angin hingga memakan korban jiwa,”terang Sudartono

Sementara itu, pihak keluarga korban telah menyerahkan kasus ini kepolisi. Bahkan korban juga berharap pelaku dihukum dengan seberat beratnya.

“Karena tersangka bermain tembak-tembakan di gang rumah yang padat penduduk,” ujar Thoriq, keluarga korban.


Editor : Dian sukmawati

BALITA TEWAS TERTEMBAK SENAPAN ANGIN

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »