Dalam jual beli, jika anda ingin Bisnis Kertas HVS-A4–Folio–Art Paper dan sejenisnya, maka anda harus tahu strateginya agar mendapatkan keuntungan melimpah dalam bisnis kertas.
Untuk mendapatkan harga kertas termurah dari pabrik, maka anda harus bisa mendapatkan sub dari pabrik pusat yang menyuplai kertas tersebut. Karena jika mengambil dari pabrik langsung, maka anda harus teken kontrak terlebih dahulu dengan pabrik yang bersangkutan yang nilainya ratusan hingga miliaran rupiah untuk bisa menjalankan bisnis kertas tersebut.
kerta-A4-HVS%25255B4%25255Dkertas-foto-copy-folio%25255B4%25255D
Jika anda ingin bisnis kertas dengan skala kecil yang bisa anda jual langsung di fotocopy atau perceakan offset yang kelasnya kecil hingga sedang. Untuk kelas ke atas (percetakan besar), maka anda juga harus berani bersaing, dan itu merupakan pertarungan normal dalam bisnis.
Kembali ke urusan kertas. Untuk mendapatkan harga kertas termurah, ukuran HVS dengan ukuran A4, Folio, hingga Double Folio maka bisa di akali dengan membeli kertas HVS plano (ukuran besar). Yang tentunya, berdasarkan pengalaman, harga kertas tersebut mempunyai selisih harga yang lebih murah dari pada kertas terbungkus langsung dari pabriknya.
Namun demikian, untuk memulai Bisnis Kertas Harga Murah, anda harus terlebih dahulu meng-cros chek dari berbagai toko kertas, hingga ke pergudangan kertas (sub pabrik) untuk mendapatkan harga terbaik, yakni harga kertas termurah yang lebih murah dari pada harga grosir kertas A4 atau Folio.
Dengan membeli kertas di sub agen kertas tersebut, ada kelebihan tentunya. karena anda tidak perlu menanam modal terlebih dahulu, yakni jika ada uang bisa langsung membeli dan tidak ada target penjualan dalam tiap bulannya seperti halnya sub agen dari pabrik tersebut. Dan tentunya sudah sesuai dengan apa yang anda harapkan, mendapatkan harga kertas termurah sesuai dengan kualifikasi jenis kertas tersebut.
HARGA JUAL BELI KERTAS MURAH dan STRATEGI Sebagai Ladang Bisnis
Untuk mendapatkan harga beli kertas murah, maka anda harus membeli kertas ukuran satu plano, yang bisa di potong A4 atau Folio yang nantinya juga bisa anda jual kertas tersebut dengan harg lebih murah juga dari toko kertas yang lain.
Sebagai gambaran ukuran kertas HVS satu plano  misalnya: 61x86, 65x100, 79x109 dan sejenisnua. Itu merupakan kertas pada umumnya yang dipakai untuk percetakan  maupun foto copy dalam pembuatan buku-buku dari pemesannya. Berlaku juga untuk kertas Artpaper, namun yang ukuran 61x86 agak sulit dicari, setahu saya memang tidak ada. Jadi khusus untuk Art paper kebanyakan mulai ukuran 65x100 ke atas ketika artikel ini Showroom cetak tulis. Mungkin saja, harga dan jenis kertas di tahun 2013 ada perubahan, maka anda harus cek juga di toko kertas tentang harga kertas.
Selanjutnya, setelah anda mendapatkan kertas ukuran plano, anda bisa memotong jenis ukuran kertas tersebut sesuai ukuran, baik A4 ataupun kertas Folio. Tergantung selera dan konsumsi dari pembeli yang menjadi sasaran anda.
Dan yang terpenting, anda juga harus mempersiapkan harga jual kertas A4 atau folio tersebut dan bandingkan dengan toko lain. Tips jual dalam bisnis kertas, jika awal penjualan, maka jangan mengambil selisih terlalu banyak dari toko sebelah, tapi targetkan pelanggan terlebih dahulu. Baru selanjutnya terserah anda.
Demikian rahasia dan Strategi Bisnis Kertas HVS-A4–Folio–Art Paper dan Sejenisnya jika anda ingin mulai merambah bisnis kertas sebagai usaha anda. Salam Wirausaha.

 

MACAM TIPE JENIS KERTAS CETAK FOTO
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepal’s Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Artikel lainnya »